Berita

Peduli Korban Gempa Sulbar, MAN 3 Sleman Salurkan Bantuan ke Mamuju


Sleman (MAN 3 Sleman)—Gempa bumi 6,2 SR yang mengguncang Kabupaten Majene-Mamuju Sulawesi Barat pada Kamis, (14/01/2021) telah mengetuk hati nurani seluruh keluarga besar Mayoga. Melalui Dewan Siswa (DEWA) yang digawangi oleh Shafa Kamila, Siswa Kelas XI IPA 3 MAN 3 Sleman yang merupakan warga asli dari Mamuju telah mendistribusikan bantuan yang berasal dari hasil donasi warga Mayoga pada Jumat, (28/01/2021).

Melalui chat Whats App, Supri Madyo Purwanto, S.Pd., Waka Kesiswaan MAN 3 Sleman memberikan keterangan bahwa kegiatan donasi ini dikomandani oleh DEWA Mayoga, yang kebetulan juga salah satu dari anggotanya yakni Shafa Kamila dari Departemen Lingkungan Hidup adalah siswa Mayoga yang berasal dari Mamuju.

“Tentu saya merasa berbangga hati, DEWA Mayoga yang baru saja dilantik kemudian langsung tanggap dan berempati dengan musibah yang dialami saudara jauh di Mamuju. Seberapapun donasi yang terkumpul, semoga akan menjadi ladang pembelajaran bagi mereka, dan bermanfaat bagi para korban bencana gempa di Mamuju,” terang Supri.

Melalui panggilan WA, Shafa Kamila mengisahkan bagimana perjuangan dan perjalanannya dalam mendistribusikan donasi dari Mayoga ini. Tak sendirian, dengan dibantu oleh pemuda pemudi Desa Bambamanurung Mamuju Tengah, dan dengan pengawalan ketat dari Banser Tanggap Bencana (BAGANA) yang dikoordinir oleh Kasatkorwil Banser Sulawesi Barat, Komandan Anshar Tahir, Shafa Kamila mengangkut hasil donasi Mayoga yang diwujudkan dalam bentuk paket sembako (makanan siap saji, alat mandi, obat nyamuk, kopi, teh), air mineral, pampers, pembalut wanita, snack kecil, bakso, bubur bayi, susu formula bayi, dan tissue basah menuju Desa Tanete Pao Mamuju Sulawesi Barat.

Memakan waktu tempuh 3 hingga 4 jam dan dengan medan yang sangat susah, serta pendakian yang curam, setiba di lokasi, rombongan Shafa Kamila disambut dengan suka cita oleh para pengungsi yang masih tinggal di tenda pengungsian. Shafa melaporkan bahwa kondisi masyarakat di tenda pengungsian hingga saat ini masih memprihatinkan, dengan kondisi yang serba terbatas, dan rasa trauma yang masih besar, terutama anak-anak.

“Alhamdulillah, mereka sangat senang menyambut kami. Shafa merasa sangat terharu namun juga bahagia, bisa berada di tengah-tengah mereka, membantu mereka, dan Shafa pun sempat merasakan dinginnya berada di tenda pengungsian,” ucap Shafa.

Selama dua hari di pengungsian, ada banyak hal yang dilakukan Shafa bersama kawan-kawannya. Tak sebatas membagikan bantuan kepada para korban gempa, Shafa pun sukses menyelenggarakan trauma healing bagi anak-anak korban gempa. Melalui bermain bersama, bernyanyi, dan bercerita Shafa memiliki harapan besar untuk bisa menghilangkan rasa trauma bagi anak-anak di pengungsian sehingga mereka tetap semangat, ceria, dan tetap optimis bahwa badai pasti berlalu. (rta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button