Berita

BK MAN 3 Sleman Lakukan Islamic Hypnotherapy Sebagai Tindakan Preventif Merokok pada Remaja


Sleman (MAN 3 Sleman) – Masyarakat yang dalam kesehariannya selalu diisi dengan mengonsumsi rokok seolah telah menjadi kebiasaan hidup yang sulit dihilangkan. Begitu juga dengan fenomena merokok tersebut yang tak hanya dilakukan mereka yang berumur di atas tiga puluh tahunan tetapi juga diikuti oleh mereka yang baru berumur sepuluh sampai lima belas tahunan. Itu menjadi problematika yang dihadapi oleh berbagai negara dimanapun termasuk Indonesia.

Sebagai tindakan preventif merokok pada remaja, BK MAN 3 Sleman melakukan Islamic Hypnotherapy pada siswa kelas XI dan kelas XII. Kegiatan ini bekerjasama dengan Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), dengan mendatangkan pakar hypnotherapy sekaligus staf pengajar pada Program Studi Psikologi UNISA yakni Zahro Varisma R, S.Psi, M.Psi, CHt dan Ratna Yunita SS, S.Psi, M.Psi, Psi, CHt.

Dalam kegiatan yang berlangsung dua sesi tersebut, dilaksanakan pada Kamis (22/8) di ruang Pusat Studi Belajar Bersama (PSBB) MAN 3 Sleman dihadiri oleh 20 siswa dari kelas XI dan kelas XII. Islamic Hypnotherapy yang diberikan bertujuan sebagai tindakan preventif merokok pada remaja yang memang satu minggu sebelumnya, tim dari Prodi Psikologi UNISA sudah menyebar angket kepada siswa MAN 3 Sleman, dan dari hasil angket tersebut dihasilkan beberapa siswa yang berpotensi merokok di usia remaja.

Zahro mengungkapkan, potensi merokok pada remaja bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti lingkungan rumah yang mendukung, kurangnya kontrol oleh orangtua kepada anaknya dan pengaruh teman sepermainan. “Pada dasarnya kebanyakan remaja menganggap bahwa dengan merokok itu dapat membuat hidupnya lebih tenang dan lebih baik, tujuan dari hypnotherapy ini dengan merubah pandangan itu,” ungkapnya.

Dalam kegiatan ini, siswa diberikan treatment berupa pengkondisian senyaman mungkin dengan memejamkan mata dan diiringi alunan instrumental hypnotherapy sampai siswa bisa relaks sambil diberikan stimulus oleh terapis sehingga menghasilkan respon oleh siswa berupa keadaan yang lebih baik lagi tanpa rokok ketika siswa membuka matanya. (ang)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close