Berita

BK MAN 3 Sleman Manfaatkan Smartphone untuk Need Assesment


Sleman (MAN 3 Sleman) – Need assesment merupakan merupakan salah satu bagian terpenting dalam seluruh kegiatan yang ada dalam bimbingan dan konseling. Karena itulah need assesment dalam bimbingan dan konseling merupakan bagian yang terintegral dengan proses pembelajaran maupun semua kegiatan bimbingan dan konseling itu sendiri. Need assesment dilakukan untuk menggali dinamika dan faktor penentu yang mendasari munculnya masalah pada siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan need assesment dalam bimbingan dan konseling yaitu mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi guru BK untuk menentukan masalah dan memahami latar belakang serta situasi yang ada pada masalah siswa.

Tak seperti biasanya yang menggunakan paper test, need assessment oleh BK MAN 3 Sleman tahun ajaran 2019/2020 ini memanfaatkan teknologi smartphone yang dimiliki oleh setiap siswa MAN 3 Sleman. Dasar program yang digunakan cukup sederhana, yakni dengan merubah konsep angket kebutuhan peserta didik (AKPD) paper test diganti menggunakan layanan google formulir atau google suite, yang nantinya hasil dapat diunduh dengan format excel oleh guru BK. Need Assesment ini dilakukan mulai tanggal 15 Juli sampai 23 Agustus 2019 di seluruh kelas X sampai dengan kelas XII di ruang kelas masing-masih oleh guru BK.
Need assessment yang biasanya menjadi hal yang membosankan bagi siswa karena siswa harus mengisi ratusan pertanyaan dari angket seketika menjadi hal yang menyenangkan dan dapat dilakukan dengan santai. Konsep ini juga tidak lepas dari alasan bahwa hampir semua siswa mempunyai smartphone. Seperti yang diungkapkan oleh Failasuffah, M.Pd.I selaku guru BK MAN 3 Sleman, selain itu konsep angket kebutuhan peserta didik (AKPD) menggunakan smartphone ini juga dinilai dapat menghemat ratusan lembar kertas, karena sama sekali tidak memakai lembar soal maupun lembar jawab, “Pengisian angket AKPD Tahun ini insya Allah berbeda dengan biasanya, kita mencoba memanfaatkan smartphone yang dimiliki hampir semua siswa, dan juga insya Allah dapat menghemat ratusan lembar kertas, karena kalau menggunakan paper test, kita harus menyediakan lembar jawab sejumlah siswa,” jelas Failasuffah.

Selain itu, konsep ini juga dinilai dapat mempersingkat waktu need assessment, karena guru BK tidak perlu lagi menginput hasil angket, jawaban atau respon dari siswa langsung bisa diunduh berupa excel yang kemudian diproses melalui aplikasi angket kebutuhan peserta didik (AKPD). Harapannya, Faila mengungkapkan konsep need assessment seperti ini dapat kedepan dikembangkan lagi menjadi lebih praktis seperti mengubah konsep google formulir ke konsep aplikasi android, sehingga siswa bisa lebih mudah lagi dalam mengisi angket kebutuhan peserta didik. Dengan google formulir ini, proses need assessment menjadi lebih cepat, memangkas proses input jawaban siswa, sehingga maslah dan kebutuhan siswa segera terungkap, dan bisa segera kita berikan layanan bimbingan dan konseling. “Harapannya ke depan semoga bisa kita kembangkan menjadi konsep yang lebih praktis, seperti konsep aplikasi android sehingga siswa lebih nyaman lagi dalam mengisi angket kebutuhan peserta didik,” pungkasnya. (ang)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close