Sleman (MAN 3 Sleman) – Permasalahan sampah masih menjadi isu serius, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak penutupan TPS Piyungan akibat penumpukan sampah, banyak kawasan wisata dan permukiman di Yogyakarta menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan limbah. Kondisi ini menarik perhatian Keyna Khalisa Ivanna (XII F) dan Assyifa Cahyani (XII H) untuk ikut berperan mengembangkan ide bisnis dengan cara kreatif dan solutif.
Dari kepedulian itu lahirlah ide “Jogja Resik, Wisata Asyik”. Produk ini dikembangkan sebagai animasi edukatif yang dirancang untuk menanamkan nilai kebersihan, kepedulian lingkungan dan pelestarian budaya lokal sejak usia dini. Dengan karakter-karakter khas Yogyakarta dan visual yang berwarna menarik, Jogja Resik, Wisata Asyik membawa pesan sederhana namun kuat, bahwa menjaga kebersihan bisa dimulai dari langkah kecil dan menyenangkan.

Tidak berhenti pada ide, Keyna dan Assyifa juga telah melakukan uji coba produk di beberapa Lembaga pendirikan anak usia dini, sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah di wilayah Sleman seperti TK ABA Blunyah Gede, SD Rogoyudan, MIN 1 Sleman dan SDN 1 Sinduadi.
Hasil menunjukkan bahwa anak-anak sangat antusias menonton animasi ini dan mampu mengingat pesan-pesan kebersihan yang disampaikan. Para pendidik pun memberikan apresiasi dengan menyebutkan bahwa media ini sangat rekomend untuk menanamkan perilaku positif dan cinta lingkungan sejak dini.
Daya tarik utama produk ini terletak pada konten lokal khas Yogyakarta, desain visual interaktif serta narasi budaya yang mudah dipahami anak-anak. Unsur-unsur ini menjadi Unique Selling Point yang membedakannya dari produk edukatif lainnya.

Keyna menyebutkan bahwa timnya ingin menciptakan media yang mendidik dan menghibur. “Kami ingin menciptakan media edukatif yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menghibur. Dengan animasi ini, anak-anak bisa belajar tentang kebersihan dan budaya lokal secara menyenangkan”, ucapnya.
Kepala MAN 3 Sleman, Singgih Sampurno, menyampaikan apresiasinya terhadap rencana bisnis tersebut. “Kami mendukung penuh inovasi siswa yang mampu berpikir produktif dan berjiwa wirausaha. Jogja Resik, Wisata Asyik bukan sekedar karya, tetapi langkah nyata menuju ekonomi berkelanjutan yang bernilai jual dan berdampak sosial,” ungkapnya. (nis)
Kontributor: Chaerunisa
Editor: Esti Nurjanah