Sleman (MAN 3 Sleman) – Alunan merdu mengisi gedung Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis (7/5/2026). Di tengah prosesi akhirussanah dan pelepasan siswa kelas XII serta santri pondok pesantren Muntasyirul Ulum MAN 3 Sleman tahun ajaran 2025/2026, sebuah harmoni gamelan yang megah menarik perhatian seluruh hadirin.
Adalah tim karawitan “Mayoga Laras”, grup seni kebanggaan MAN 3 Sleman, yang tampil memukau membuka dan mengiringi rangkaian acara tersebut. Di bawah bimbingan tangan dingin Widodo Lestari, Warsito, dan Neshi Rasyida, tim ini berhasil menyuguhkan performa yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan pesan moral dan filosofis.


Dalam penampilannya kali ini, Mayoga Laras membawakan tiga tembang pilihan yang memiliki makna mendalam bagi para wisudawan yang akan melangkah ke jenjang kehidupan baru. Tembang pertama, Gugur Gunung: Tembang ini dibawakan dengan penuh semangat, membawa pesan tentang pentingnya semangat gotong royong dan kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Tembang kedua, Pepeling: Sebuah pengingat religius yang menyentuh hati, mengajarkan para siswa dan santri agar senantiasa ingat (eling) dan istikamah dalam beribadah kepada Allah SWT di mana pun mereka berada. Tembang ketiga, Lewung: Tembang yang menggambarkan keteguhan hati, bermaksud membekali para lulusan agar memiliki pendirian yang kokoh dan tidak mudah terombang-ambing oleh kebingungan dalam menentukan masa depan.

“Penampilan Mayoga Laras bukan sekadar pelengkap acara, melainkan wujud nyata komitmen madrasah dalam melestarikan budaya Jawa di tengah gempuran zaman modern,” ujar Widodo Lestari.
Kehadiran tim karawitan ini membuktikan bahwa siswa MAN 3 Sleman tidak hanya unggul dalam prestasi akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki kepekaan seni yang tinggi. Hadirnya Mayoga Laras di acara pelepasan siswa tahun ini terasa lebih berkesan, meninggalkan kenangan manis bagi angkatan 2025/2026. (est)