Berita

Strategi 4 C Pertanian Masa Depan (Naskah Lomba Agri Writing Competition Kementerian Pertanian RI)

Strategi 4 C Pertanian Masa Depan
Oleh Suwandi *)

Adalah fakta, pertanian merupakan tulang punggung perekonomian bangsa dan ikut menjaga ketahanan pangan keluarga. Selama hidup, manusia pasti butuh makan, siapa pun dia. Bahkan sektor pertanian terbukti handal menopang perekonomian nasional selama pandemi Covid-19 (Republika, 13 Juni 2020, halaman 5). Untuk lingkup DIY, ada berita bagus: “Selama Mei 2020 Daya Beli Petani DIY Meningkat Tipis” (Kedaulatan Rakyat/KR, 5 Juni 2020, hlm. 9). “Harga Gabah di Tingkat Petani DIY Naik” (KR, 9 Juni 2020, hlm. 9). “Cerita Manis Petani Milenial di Masa Pandemi” (Republika, 8 Juni 2020, hlm. 12).

Namun sayang nasib petani dan bidang pertanian belum prospektif. Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga masalah utama bidang pertanian: minimnya tenaga kerja yang berkualitas, berkurangnya lahan secara terus-menerus, dan kurangnya penguasaan ilmu dan teknologi petani. Tenaga kerja pertanian sampai kini masih didominasi tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, mencapai 81 persen. Iwan Setiawan, S.Pd, M.Si, Dosen Jurusan Pendidikan Geografi FP IPS UPI dalam makalahnya yang berjudul Peran Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia, disebutkan lebih rinci. Kondisi SDM bidang pertanian masih rendah. Pendidikannya, 59, 2 persen tidak tamat SD, sebanyak 32, 1 persen tamat SD, tamatan SLTP dan SLTA masing-masing sebanyak 5,7 dan 2,9 persen.

Belum lagi tenaga kerja bidang pertanian rata-rata sudah sepuh. Minim regenerasi lagi. Menjadi petani tak menjanjikan masa depan. Animo masuk jurusan pertanian juga rendah. Begitu masuk jurusan pertanian, keluar sebagai sarjana belum tentu kerja di bidang pertanian. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonny Koesmaryono mengatakan, tren minat generasi muda terhadap pertanian mulai menurun. “Saya melihat trennya menurun. Sudah lima tahun terakhir menurun,” (republika.co.id, diunduh pada Senin, 15-6-2020, 09.34).

Studi kasus di Kabupaten Sleman – lumbung pangan DIY, alih fungsi lahan pertanian ke nonpertanian dari tahun ke tahun mengalami kenaikan drastis. Dengan kata lain, terjadi penurunan lahan. Luas lahan di tahun 2013 (24.774 Ha), 2014 (24.219 Ha), 2015 (24.628 Ha), dan 2016 (24.577 Ha) – Sumber: BPS, Kabupaten Sleman Dalam Angka, 2016. Secara nasional tentu lebih besar lagi, utamanya di kota-kota besar. Konversi lahan ini merupakan konsekuensi logis dari aktivitas manusia ataupun dampak langsung dari meningkatnya jumlah penduduk yang sudah pasti perlu pemukiman dan sarana lainnya.

Dari paparan beberapa masalah di atas harus dicari solusinya. Mengacu ke model pembelajaran abad 21, yakni 4C yang meliputi: Communication, Collaboration, Critical thinking and problem solving, dan Creative and Innovative. Rotherdam & Willingham (2009) mencatat bahwa kesuksesan seseorang tergantung pada kecakapan abad 21. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi: komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis dan pemecahan masalah, serta kreatif dan inovatif. Kehidupan pun merupakan proses pembelajaran. Kita belajar sepanjang hayat (lifelong learning), maka sebagai solusinya diatasi dengan strategi 4C.
Strategi 4 C

Communication. Jalinan komunikasi amat penting, apalagi di musim pandemi. Selalu berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait pertanian, perkebunan, dan perikanan akan memungkinkan adanya solusi atas ketiga problem di atas. Tidak adanya tumpah tindih program dan kepentingan antarkementerian serta sikap terbukanya para petani menjadi keniscayaan yang solutif.

Collaboration. Jika dalam kegiatan keagamaan, misal shalat, maka pahala dan manfaat akan lebih besar jika dengan berjamaah. Dalam jamaah terkandung kolaborasi, yakni kerja sama dan sama-sama kerja. Sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja tertinggi, yakni sebanyak 44, 5 persen pada tahun 2006 (BPS). Namun demikian, kontribusinya dalam Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sebesar 13, 3 persen. Dengan tidak seimbangnya kontribusi PDB dan jumlah tenaga kerja yang diserap, maka tingkat produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian menjadi yang terendah. Coba bandingkan dengan sektor industri yang menyumbang 28, 9 persen terhadap PDB nasional, namun hanya menyerap tenaga kerja sebesar 12, 1 persen. Apa akibatnya? Kesejahteraan rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian akan lebih rendah dibanding yang bekerja di sektor industri. (Naker Pertanian Bappenas, pdf).

Critical thinking and problem solving. Berpikir kritis berarti mampu menyikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, dan mampu memanfaatkan untuk kemanusiaan. Terampil memecahkan masalah berarti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Ternyata hal ini telah dipraktikkan Hari Wibowo di Sorowajan Panggungharjo Sewon Bantul. “Keluar dari Bank, Kembangkan Pertanian. Ketahanan Pangan Keluarga dengan Getaran Hanpit” atau Gerakan Tanam Sayuran di Lahan Sempit (Koran Minggu Pagi, No. 10 Th 73 Minggu II Juni 2020, hlm. 1 dan 3). Metode tanamnya dengan hidroponik dan vertikultur.

Sedangkan Muh Khoirul Sholeh (46 tahun), warga Dusun Kebonkliwon RT 09/RW 06 Desa Kebonrejo Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, mengembangkan hidroganik, gabungan antara hidroponik dan organik. “Padi Bisa Ditanam di Halaman Rumah” (Tribun Jogja, 10 Juni 2020, hlm. 1 dan 11). “Hidroganik Hasilkan Padi Empat Kali Lipat” (Radar Jogja Jawa Pos, 12 Juni 2020, hlm. 5). “Menanam Padi di Paralon” (Kompas, 11 Juni 2020, hlm. 8). “Tanam Padi Hidroganik” (Republika Jateng DIY, 23 Juni 2020, hlm. 14). Padi ditanam di dalam gelas plastik kompos dan sekam bakar, diletakkan di pipa-pipa yang dialiri air serta nutrisi dari sumber air kolam ikan nila.
Creative and Innovative. Sikap kreatif dan inovatif harus dimiliki di era yang tak menentu atau disruptif ini. Petani Hari Wibowo dan Muh Khoirul Sholeh di atas termasuk kreatif dan inovatif. Dari sisi Pemerintah Daerah, Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi meresmikan Relawan Hijau di enam kampung: Karangwaru, Wirogunan, Bausasran, Pandeyan, Kricak, dan Rejowinangun (Koran Merapi, 4 Juni 2020, hlm. 2). Ini pun termasuk terobosan baru.

Inovasi dalam bidang pemasaran melalui dalam jaringan telah dilakukan oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lembang Agri, Dodih via situs dan aplikasi jualsayuran.com (Kompas, 6 Juni 2020, hlm. 15). Terbukti ada hikmah di balik musibah Covid-19. Kelompok Tani Citra Muda di Desa Kopeng Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang beranggotakan 30 anak muda, usia 19-38 tahun kini membudidayakan 70 jenis sayuran organik (Republika, 8 Juni 2020, hlm. 12). Kabar terbaru dan solutif terhadap hama, dengan diciptakan alat ramah lingkungan oleh Raihan Khoirillah dan Rasyid Jauhar. “Siswa SMKN 1 Pundong Bantul Berkreasi Ciptakan Perangkap Hama Tenaga Surya” (KR, 15 Juni 2020, hlm. 10).

Kita tunggu tambahnya kemauan baik (good will) dan keberpihakan serta penguatan dari pemerintah pada nasib petani dan pertanian (top down). Warga telah andil dengan segala kreativitas dan keterbatasannya (bottom up). Strategi 4 C diharapkan terbukti dan teruji bisa mengatasi masalah pertanian. Tinggal adanya sinergitas ‘dari atas’ dan ‘dari bawah’. Jika tidak, maka nasib petani dan pertanian tetap mboten up alias jalan di tempat dari waktu ke waktu. Na’udzubillaahi min dzaalik. Aamiin.

*) Guru Fisika, KIR, Jurnalistik MAN 3 Sleman Yogyakarta (Mayoga). Keturunan petani yang tidak berprofesi sebagai petani dan ingin jadi petani (lagi) pascapensiun dari ASN. Insya Allah.

NASKAH AKAN DIIKUTKAN DALAM LOMBA AGRI WRITING COMPETITION YANG DISELENGGARAKAN OLEH KEMENTERIAN PERTANIAN RI

Mohon dukungan seluruh keluarga besar MAN 3 Sleman, semoga lolos seleksi.
Dukungan dapat diberikan melalui like Facebook Suwandi Mayoga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close