Sleman (MAN 3 Sleman) — Upaya menanamkan nilai toleransi tidak cukup hanya diajarkan secara teoritis. Hal inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya kegiatan Dialog Lintas Iman E-Talk+ (Empathic Talk, Teamwork & Kindness) di Madrasah Aliyah Negeri 3 Sleman pada Rabu (15/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di ruang perpustakaan MAN 3 Sleman ini diinisiasi oleh Imas Kurniasih, guru Al-Qur’an Hadis sekaligus pembimbing debat di MAN 3 Sleman. Berangkat dari kegelisahannya sebagai pendidik di lingkungan madrasah yang homogen, beliau merasa bahwa pembelajaran toleransi selama ini masih sebatas teori dan belum memberikan pengalaman nyata kepada siswa.
“Sebagai madrasah yang seluruh siswanya beragama Islam, kami perlu menghadirkan ruang belajar yang lebih kontekstual agar siswa tidak hanya memahami toleransi, tetapi juga merasakannya secara langsung,” ungkap Imas.

Kegiatan ini menghadirkan 10 siswa lintas iman (selain Islam) dari SMA Budi Utama sebagai sekolah mitra. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala MAN 3 Sleman, Singgih Sampurno dan dilanjutkan dengan sambutan dari guru pendamping SMA Budi Utama, Agnes Ria Dwi Janari.
Dialog lintas iman ini dikemas melalui model pembelajaran E-Talk+, yaitu pendekatan yang menekankan dialog empatik (empathic talk), kerja sama (teamwork), dan penanaman nilai kebaikan (kindness) dan etika dalam pergaulan sosial maupun digital. Rangkaian kegiatan dimulai dari pembukaan, perkenalan dan ice breaking, story telling tentang keyakinan yang dianut, hingga dialog interaktif lintas iman yang berlangsung hangat, menyenangkan, dan penuh keterbukaan.
Para siswa tidak hanya berdiskusi, tetapi juga diajak untuk bekerja sama dalam menyusun poster komitmen toleransi serta merancang tindak lanjut kolaborasi antar sekolah. Beberapa rencana yang disepakati antara lain kegiatan sparing basket, latihan pramuka bersama, studi banding OSIS, hingga kolaborasi seni antara karawitan MAN 3 Sleman dan musik tradisional Cina dari SMA Budi Utama.

Suasana kegiatan berlangsung dengan penuh antusias dan keakraban. Para siswa tampak menikmati proses dialog yang membuka wawasan mereka terhadap keberagaman. Salah satu peserta dari MAN 3 Sleman, Amani Hafiyyan Syahida (XI G), mengungkapkan kesannya,
“Setelah kegiatan dialog ini, saya jadi lebih memahami teman yang berbeda agama, ternyata kita bisa saling menghargai dan bekerja sama,” ucapnya.
Melalui kegiatan ini, MAN 3 Sleman berhasil menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan sosial siswa. Model E-Talk+ menjadi bukti bahwa toleransi dapat ditumbuhkan melalui pengalaman nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas.
Sejalan dengan semangat kegiatan yang diusung, “Berbeda itu biasa, saling menghargai itu luar biasa,” dialog lintas iman ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun generasi yang moderat, empatik, dan mampu hidup harmonis dalam keberagaman. (ims)
Kontributor: Imas Kurniasih