Berita

15 Menit Membaca, Ikhtiar Nyata Gerakan Literasi Di MAN 3 Sleman


Sleman (MAN 3)- “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. Teman-teman Siswa MAYOGA yang kami banggakan. Kita semua tentu ingin jadi pribadi muslim yang cerdas dan sukses. Untuk itu, kita harus membangun diri menjadi insan yang berwawasan dan berkarakter kuat. Mari, kita mulai semua itu dari MAYOGA. Dan sebagai upaya nyata, mari alokasikan waktu 15 menit untuk membaca buku-buku koleksi perpustakaan kelas kita, atau bisa juga memanfaatkan koleksi Oase Baca di sekitar kelas. Dan jangan lupa, ikat bacaan kalian dengan menuliskan ringkasannya di jurnal baca yang telah disediakan. Ayo! Genggam Dunia Dengan Membaca”. Itulah teks kalimat yang diperdengarkan di seantero MAN 3 Sleman melalui live sound pada Selasa (27/8) pukul 07.10 WIB tentang ajakan untuk membaca buku sebagai pertanda dilaksanakannya Gerakan 15 Menit Membaca secara serentak.

Buku yang dibaca adalah buku-buku koleksi perpustakaan kelas masing-masing, atau bisa juga memanfaatkan koleksi buku di Oase Baca di sekitar kelas. Sedangkan bagi para guru dan pegawai, buku yang dibaca adalah buku-buku koleksi Perpustakaan MAYOGA yang disajikan dalam TroPus (Troli Pustaka). Dimana TroPus ini akan dilayankan oleh siswa MBL (Mayoga Book’s Lover) yang telah ditunjuk sebagai Satgas (Satuan Tugas) Literasi Madrasah dengan berkeliling menawarkan koleksi buku perpustakaan di Ruang TU (Tata Usaha) dan Ruang Guru.

Pelaksanaan program 15 Menit Membaca di MAN 3 Sleman ini telah menjadi kebijakan nyata sebagai upaya untuk membiasakan kegiatan membaca buku baik oleh siswa maupun guru dan pegawai. Kegiatan ini dilangsungkan sekali dalam seminggu, setelah pembacaan Asmaul Husna selesai. Adapun penentuan harinya telah terjadwal di setiap minggunya. “Akan ada kemungkinan nanti pelaksanaan program ini bisa dua atau tiga kali dalam seminggu. Bahkan mungkin bisa setiap hari. Kita pelajari dulu keefektifannya,” terang Thoha, M.Pd.Si., Waka Kurikulum MAN 3 Sleman dalam sebuah rapat koordinasi dengan kepala dan para wakil kepala madrasah.

Sementara itu, RUA Zaenal Fanani, Guru PPMB (Pengembangan Penalaran dan Minat Baca) sekaligus konsultan MAN 3 Sleman dan konsultan Perpustakaan MAYOGA dalam sebuah kesempatan wawancara menyampaikan bahwa kegiatan membaca layaknya olahraga. “Pada awalnya memang terasa berat, tetapi kalau dilakukan secara rutin dan terus menerus niscaya akan menjadi sebuah hal yang biasa saja. Bahkan bisa jadi akan ketagihan, terasa ada yang kurang kalau tidak dilakukan. Demikian juga dengan membaca. Kegiatan membaca harus selalu dilatih dan dibiasakan. Dan salah satu caranya adalah dengan dipaksa.”

Tidak hanya wajib baca tetapi setelah pelaksanaan 15 Menit Membaca, para siswa, guru dan pegawai diharuskan juga untuk mengikat hasil bacanya dengan menuliskan ringkasan atau isi pokok dari apa yang dibaca dalam jurnal baca yang telah disediakan oleh Perpustakaan MAYOGA. Dengan demikian, pemaknaan literasi ini tidak hanya membaca, tetapi juga tertanam sebagai sebuah sikap positif untuk gemar membaca, gemar menulis, gemar berimajinasi. Seperti mengutip pernyataan Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI dalam harian Suara Merdeka (Senin, 26/8) “Padahal literasi itu tidak hanya membaca buku. Melalui membaca itu kemudian seseorang memiliki perspektif baru. Kemudian dia juga membuat karya. Proses itu terjadi terus-menerus sepanjang hayat.” (Rta)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close