Medali Perak Karate O2SN dan Piala Juara 1 Tanggap Bencana semarakkan Upara Hari Kartini MAN 3 Sleman

Kartini lahir pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879) di Mayong, afleding, Jepara, kemudian sekolah Belanda di Jepara, tempat kedudukan bapaknya menjadi Bupati. Dimasa sekolah itu Kartini merasa bebas.Waktu sudah berumur dua belas tahun, tiba-tiba dipaksa dipingit.

Orang tua Kartini memiliki adat memingit dengan teguh, meskipun dalam hal-hal lain sudah maju, bahkan sebenarnya keluarga yang termaju di pulau Jawa. Empat tahun lamanya kartini tidak diizinkan keluar rumah , ketika sudah berumur 16 tahun (pada tahun 1895) ia dibolehkan melihat dunia luar lagi. Kartini seorang anak yang suka belajar, dan dia tahu masih banyak pengetahuannya yang dapat dipelajari, beliau tidak mau ketinggalan dengan teman temannya anak gadis Eropa dan saudara-saudaranya yang menjadi murid H.B.S. Beliau memohon dengan sangat agar diperbolehka terus belajar, seperti kawan-kawannya dan saudaranya, tetapi dengan tegas, bapaknya menolak dan memberi jawaban tidak.

Sampai usia 12 tahun Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda, tetapi setelah usia 12 tahun ia harus tinggal di rumah karena sudah biasa dipingit. Karena Kartini bisa bahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku Koran dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul kemauan untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kartni banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Broos Hooft, ia juga menerima Leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Diantaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di Hollandsche Lelie.

Perhatiannya bukan hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Diantara buku yang dibaca sebelum berumur 20 tahun, terdapat judul Max Havelaar dan surat-surat cinta karya Multatuli yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (kekuatan gaib) karya Louis Coperus, kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta De Witt yang sedang-sedang saja, Roman Feminis karya Nyonya Goekoop de-jong Van Beek dan sebuah roman anti perang karangan Berta Van Stuttner, Sie Waffen Nieser (letakkan senjata) semuanya berbahasa Belanda. Oleh orang tuanya Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyoningrat yang sudah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Kartini diberikan kebebasan mendirikan sekolah wanita disebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang yang kini digunakan sebagai gedung Pramuka. Anak pertama sekaligus terakhir R.M. Soesilat, lahir pada tanggal 13 sertember 1904, pada tanggal 8 Nopember 1903 R.A. Kartini Menikah, beberapa hari kemudian tanggal 17 Sertember 1904 Kartini meninggal pada usia 25 tahun.

Riwayat perjuangan R.A. Kartini tersebut di atas disampaikan Pembina Upacara, Isni Kurnia, M.Si, yang digelar MAN 3 Sleman untuk memperingati Hari Kartini pada tanggal 22 April 2019.

Lebih lanjut Isni Kurnia menyampaikan kutipan inpsiratif untuk memotivasi kaum wanita Indonesi, khususnya para siswi MAN 3 Sleman, sebagai berikut :

  1. Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri
  2. Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu
  3. Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam.

Di akhir amanahnya, ada pertanyaan yang disampaikan Isni Kurnia dalam bahasa Jawa, :

“Kados pundi kartini muda 2019?

Sakwayah wayah nyepeng hp

Pedamelan sekolah mboten digape

Didawuhi sinau le mungal mangkeh

Disuwuni tulung mbiyantu eh malah ngece

Mainan hp dugi jam sewelas dalu

Jebul sik dirembug namung masalah rindu

Ditagih tugas saking guru mboten kecandak

Pas ditangkleti malah le njawab sengak

Nyuwun sewu niku sanes lare MAN 3 Sleman, ingkang putri santun lan sholeha, ingkang kakung soleh lan ngaji purun mbiyantu lan jaga kanti permadi.

Mugi mugi sedaya tansah waspada urip wonten ndonya namung sakedepan netra, monggo sedaya sami semangat lan mawas diri, nyonto kados semangatipun RA. Kartini.”

Serangkaian Upara Hari Kartini yang khidmat, ditutup dengan penyerahan medali kejuaraan yang diperoleh siswa pada ajang O2SN Kabupaten Sleman tahun 2019 meraih medali perak atas nama Fadhila Amalia Putri dan Piala Penghargaan Juara 1 Tanggap Bencana oleh TIM PMR MAN 3 Sleman yang diselenggarakan MA Mualimin kepada Kepala MAN 3 Sleman, Nur Wahyudin Al Azis. Kepala MAN 3 Sleman, Nur Wahyudin Al Azis mengapresiasi dan menyampaikan rasa bangganya pada para siswa, yang meraih prestasi dan selalu mengukuhkan MAN 3 Sleman sebagai Madrasahnya para Juara.  (IP)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.